Just Some Story of Mine

Sudah…dan Kapan … ???

Yah lebaran sudah berlalu, musim ketupat dan kumpul keluarga pun sudah beranjak. Saya memang tidak merayakn lebaran tetapi beberapa saudara dari keluarga besar saya merakan lebaran, itulah sebabnya setiap tahun sehari sebelum lebaran di rumah pasti sudah ada ketupat, sambel goreng dan sayur cabe nongkrong di rumah saya di Bandung. Kiriman dari tante dan sepupu saya. Biasanya saat hari lebaran kalau ada waktu saya sekeluarga mengunjungi beberapa tante dan om yang berlebaran. Saat saya masih kecil tiap tahun keluarga besar berkunjung ke rumah adik opa saya (oma saya juga) di daerah Purwakarta. Tradisi yang sudah mulai hilang karena kami semakin sibuk dengan urusan kami masing-masing.

Tahun ini. Saya di Tokyo. Suasana Lebaran tidak begitu terasa. Saya hanya ikut makan-makan di KBRI dan itu pun sebenarnya saya tidak mau datang awalnya, karena ingin jikken (eksperimen). Suasana lebaran Indonesia saya rasakan lewat twitter. Teman-teman yang mudik dan mengeluh karena macet. Teman-teman yang saling mengucapkan maaf lahir batin dan, ini yang mendominasi, teman-teman yang kesal dan misuh-misuh karena di tanya “Kapan nikah?” oleh kerabat mereka. Hihihihihihi…untung saya di Tokyo,,,

Seperti biasa tadi malam sambil menjemur pakaian saya, saya tiba-tiba kepikiran hal ini dan mencoba menganalisis (bukannya data riset dianalisis).  Saya pun pernah ditanya semacam itu oleh beberapa kerabat saya ketika saya masih di Indonesia.

Berikut analisis saya….

Saat kumpul keluarga pertanyaan yang paling populer dan hampir selalu ditanyakan pada generasi mudanya didominasi dengan kata “KAPAN” dan “SUDAH” ketika kita masih kuliah kita ditanya “Sudah lulus?” dan “Kapan lulus?” pertanyaan ini bisa dengan mudah dijawab dan tidak menimbulkan efek samping apabila memang belum skripsi atau TA tapi ketika sudah semester kedua, ketiga atau bahkan keempat skripsi/TA pertanyaan ini menjadikan kita malas datang kumpul keluarga meski sebenernya banyak makanan sedap menanti.

Oke kita sudah lulus kuliah. Jangan harap kerabat tidak akan bertanya dengan kedua kata di atas lagi. Justru mereka akan mengajukan pertanyaan yang lebih sulit lagi. “Sudah dapat kerja??” “Dimana??” Bisa dibilang saya berpengalaman dengan pertanyaan ini. Ketika saya lulus kuliah S1 hampir semua kerabat, paling tidak bertanya pertanyaan ini satu kali kepada saya, dan saya pun menjawab dengan jawaban yang sama “Tidak mau kerja. Mau sekolah lagi” mudah simpel, tidak offensive  dan cukup membuat kerabat bungkam. Sejenak, karena dilanjutkan oleh pertanyaan “Dimana??” dan seterusnya seterusnya seterusnyaaaaa…

Lalu ketika kita sudah dapat kerja. “Sudah punya pacar belum??” bila jawabannya sudah maka pertanyaan akan berlanjut ke pertanyaan selanjutnya “Kapan nikah??” dan apabila jawabannya belum, ada dua kemungkinan kita diberikan wejangan panjang lebar untuk cepat-cepat cari pacar atau bersiaplah, sebab kerabat kita ini akan bertransformasi menjadi mak comblang dan kumpul keluarga berikutnya bertransformasi menjadi ajang perjodohan.

Ketika kita sudah menikah pertanyaan menjadi “Kapan punya anak??” lalu ketika sudah punya anak satu “Kapan ngasih adik ke …..(nama anak pertama kita)?” dan seterusnya seterusnya seterusnyaaaa

Yah memang itulah realita yang harus kita hadapi sebagai salah satu member dari sebuah keluarga besar. Seolah-olah pertanyaan demi pertanyaan baru hadir setiap tahunnya untuk kita jawab. Sebagian memberikan efek samping panas di hati, sebagian membuat kita kangen dengan kumpul keluarga, sebagian bikin kita senyum-senyum sendiri, sebagian menyebalkan. Saya berusaha menganalisis mengapa pertanyaan-pertanyaan ini menjadi pertanyaan ‘hot’ di waktu kumpul keluarga. Beberapa alasan muncul dari mulai, ice-breaking, tante yang doyan bergosip, om yang usil, ga mau kalah sama anak mereka, iseng, dan lain-lainnya. Terlepas dari semua alasan-alasan yang muncul di kepala saya, saya melihat ini merupakan suatu bentuk kepedulian mereka terhadap kita dan keluarga. Mereka ingin terus ter-update oleh berita-berita terbaru tentang keluarga mereka. Berbeda dengan keluarga kecil kita yang terus ter-update, keluarga besar kita tidak terlalu mengetahui keseharian kita, kabar-kabar terbaru kita, maka kumpul keluarga ini merupakan ajang update berita bagi mereka. Pertanyaan-pertanyaan tadi merupakan wujud perhatian mereka kepada kita, salah satu cara mereka untuk terus memperhatikan kita.

Terkadang meskipun kita tahu fakta di atas, bahwa itu merupakan bentuk perhatian keluarga besar kepada kita. Kita selalu saja menemukan pertanyaan-pertanyaan di atas cukup mengganggu mood kita saat acara kumpul keluarga. Saya berusaha membuat tips dan trik menjawab pertanyaan tersebut, terutama pertanyaan “Kapan Nikah?”

1. Tindakan preventif memang lebih baik. Hindari. Apabila percakapan sudah menjurus kepada soal jodoh dan pacar sebaiknya undur diri dan sibukan diri kita dengan mengisi perut atau pura-pura ke WC atau bermainlah dengan sepupu-sepupu/keponakan-keponakan kita yang masih kecil-kecil. Ada baiknya kita mengajukan diri secara sukarela untuk menjadi pengasuh sehari anak-anak kecil dan lebih banyaklah beraktivitas dengan mereka di luar rumah, di teras, taman dekat rumah ato di mana lah yang jauh dari kumpulan tante-tante dan om-om. Atau Masak Indomi di dapur juga bisa. Cuci piring di dapur juga boleh.

2. Apabila memang sudah kepentok ditanya pertanyaan tersebut jawablah dengan diplomatis alias ngeles.

“Kapan Nikah?” “Nunggu om nikah kedua kalinya” dijamin om/tante langsung ill feel dan kita dicap sebagai keponakan kurang ajar.

“Kapan Nikah?” “Aduuuh belum boleh sama mama/papa” si om/tante akan langsung bertanya kepada ayah/ibu kita dan kita telah berhasil membuat ayah/ibu kita bingung karena harus ikut menjawab. Saya bersyukur, karena suatu waktu mama saya menjawabkan pertanyaan ini untuk saya. Dia bilang, “Nanti dulu, selesaikan dulu sekolahnya” Yes!!Love you, mom!!!

“Kapan Nikah??” Apabila Anda pria dan belum genap 25 tahun, jawab saja. “Masih belum boleh oleh saran di peraturan negara tentang pernikahan.” Kalau sudah 25 tahun ke atas, yaaaaah…mungkin memang sudah saatnya anda memikirkan kapan anda mau menikah.

“Kapan Nikah?” “Lagi ngumpulin uangnya om/tante.” “Pacar sudah punya?” “Sudah tapi masih rahasia tunggu saja tanggal mainnya.” Dirahasiakan oleh Tuhan YME maksudnya alias belum punya.

“Kapan lulus?” “Kalau sudah selesai sidang om/tante.”

“Kapan punya anak??” “Kalau sudah hamil om/tante.”

Intinya jawablah pertanyaan tersebut sediplomatis mungkin kemudian cari kesempatan untuk kabur atau alihkan perhatian kerabat kita. Manggil tukang siomay lewat kek. Ngambil makanan porsi selanjutnya kek. Nawarin duren kek. Tanyain udah pernah baca buku Ragone “Thermodynamics of Materials” kek.

Contohnya:

“Kapan lulus?” “Kalau sudah sidang om/tante. Ngomong-ngomong om/tante udah pernah baca buku karangan Ragone judulnya ‘Thermodynamics of Materials’ belum?” jawabannya pasti belum kecuali om/tante anda jurusan material dan turunannya atau pernah ngambil kelas termo. “Bukunya menarik looooh. Ceritanya tentang bla…bla…bla…” niscaya om/tante anda bingung.

Yuuuuu ah sekian dan terima kasih buah pikiran ngaco saya ini….

3 responses

  1. Kapan nikah yor?😀

    September 5, 2011 at 5:32 am

    • “Belum boleh sama mama” *eaaaaa

      September 5, 2011 at 8:46 am

  2. haha mantap

    September 5, 2011 at 5:53 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s