Just Some Story of Mine

What’s with this superiority (and inferiority)?

Firstly, when you read this post please don’t judge, don’t assume…It’s just my opinion in general,,though it includes some of my experiences they have nothing to do with me, my feeling, my state of heart or my situation slash condition.

Ketika saya memulai program ini (Integrated Graduate Program) dimana program Master dan Doctoral dijadikan satu menjadi satu program, salah seorang kerabat mengatakan kurang lebih begini “sebelum lulus doktor cari pacar dulu oi, nanti kalau sudah doktor susah” Saya hanya tersenyum (atau tertawa) dan ia pun menceritakan salah satu rekannya yang sudah doktor n belum menikah “Kasian oi, pada takut duluan sama gelarnya.” Ok.

Kemudian saya ngobrol juga dengan teman saya di sini, di kota ini, this very city Tokyo. Seorang teman satu kampus berkebangsaan sama dengan saya. “Kalau melihat mba-mba itu (yang kebanyakan sedang study doctoral course) suka kasian saya sudah cukup umur tapi masih belum menikah” pada saat itu saya membalas kurang lebih “Kenapa harus kasian ya? kalau sudah waktunya mereka pasti menikah juga dan kalau memang tidak menikah ya kenapa kita harus kasihan? Ada orang-orang yang hidupnya lebih bahagia dengan tidak menikah.”

Kemudian muncul sebuah pertanyaan dalam pikiran saya “what’s with this superiority, guys?” maksudnya, banyak pria secara spesifik menginginkan wanita cerdas tapi tidak lebih cerdas dari mereka sendiri sebagai pasangannya. Ok. What’s with you guys? Apakah salah kami, para wanita (btw, pernyataan ini bukan dgn maksud meng-kategorikan diri saya sendiri sbg wanita cerdas loh) untuk mengasah kemampuan otak kami? To dream higher and farther? To aim bigger?

Saya rasa perasaan insecure tersebut sangatlah tidak masuk akal dan non-sense. Bukankah Tuhan menciptakan kita sederajat?Setara? Dan memang para lelaki sudah diberikan perannya sendiri secara khusus oleh Tuhan sebagai kepala dalam keluarga. Ordenya sudah jelas bahwa lelaki adalah kepala, (moreover, as I believe) perwakilan Kristus dalam keluarga. Lalu mengapa harus ada perasaan insecure?

Kemudian, para wanita, selama anda masih single (atau belum menikah) mengapa kita harus merasa inferior? Seolah-olah apabila kita meraih posisi tertinggi, pendidikan tinggi, and high salary, kita melangkahi kodrat kita? kita memperkecil (dan mempersulit) kemungkinan kita untuk berkeluarga? Bukankah segala talenta dan kemampuan kita sudah sepantasnya kita asah dan kembangkan sebaik-baiknya? Apakah menjadi ambisius itu salah? (well, dengan catatan kita masih tetap tunduk pada otoritas Tuhan dalam kehidupan kita) Apakah kemudian kita harus menjadi lebih di bawah untuk mempertahankan kodrat kita, yang katanya menjadi seorang istri dan ibu? should we really aim smaller and dream not to far? Bukankah di atas segalanya yang disebut-sebut sebagai ‘kodrat’ itu ada otoritas Allah yang mengendalikan kehidupan manusia? yang secara unik menciptakan manusia bagi kemuliaan nama-Nya dan tujuan-Nya sendiri yang spesifik? terlepas dari apakah seorang wanita akan menjadi seorang istri dan ibu atau tidak.

Dari sebuah sesi obrolan dengan pembimbing saya waktu saya masih undergrad. Seorang teman saya mem-postponed waktu lulusnya. Dengan salah satu alasan, pacarnya. Ya pada saat itu pacarnya belum ada tanda-tanda akan lulus secepatnya sih. Kemudian saya mencak-mencak di depan pembimbing saya itu “Saya ga mengerti, pak. Dia itu bisa lulus bulan Juli tapi di undur karena salah satu alasan adalah pacarnya. Kenapa gitu pacarnya harus menjadi alasan? Kan bukan salah dia kalau dia bisa lulus lebih cepet, suruh siapa pacarnya telat lulus.” “Harusnya pacarnya gitu yang termotifasi untuk lulus cepet kayak (saya menyebut nama teman saya, sebut saja Raja). Karena -sebut saja Putri-nya lulus cepet, Raja-nya jadi lulus cepet juga karena pengen lulus bareng. Ini kenapa harus dia yang lulus telat krn nungguin pacarnya lulus. Irrational.” Kemudian pembimbing saya bilang “Yo, kamu memang belum mengerti hal-hal yang seperti ini. Ada teman saya yang juga harus give up doctoral course nya karena suaminya tidak dapat kesempatan doctoral course-nya” dan dengan spontan saya menjawab “Ya kan beda pak, itu kan udah jadi suami, bukan cuma pacar. Tapi klo saya sih ya pak, harusnya suaminya mendukung donk. Suruh siapa dia ga dapet. Suruh siapa lebih bego dari istrinya. Harusnya lebih termotivasi lagi donk.” Dan sambil agak geleng-geleng beliau membalas “Yah yo, memang kamu belum mengerti hal-hal yang seperti ini.”

Dan sekarang saya sudah mulai mengerti ‘hal-hal seperti ini’ yang dimaksud pembimbing saya itu. Karena memang benar sebagai wanita kita harus tau juga dimana harus berhenti. Karena ketika karunia menjadi istri dan ibu itu didapatkan, Allah mengatakan bahwa kita memang harus tunduk terhadap otoritas kepala keluarga, which is our husband, karena ialah wakil Allah dalam keluarga. Sulit memang bagi wanita untuk tunduk, apalagi untuk orang-orang seperti saya. Dalam suatu camp pemuda yang pernah saya ikuti, pendeta pembicara dalam salah satu sesinya mengatakan “Awas ya pemudi-pemudi di sini, kalau sudah menikah jangan jadi setan bantal. Yang kalau pengen sesuatu merengek-rengek sama suami sampai di tempat tidur. Pas lagi mau tidur ‘pa, ya pa, boleh ya….’ ‘pa, boleh ya’ suami yang udah capek pun akhirnya males nanggepi dan pengen cepet tidur ‘ya udah boleh!’ nah jangan begitu ya” hahahahahaha…memang kita wanita sangat pandai memperdaya orang, apalagi pasangan sendiri. Hati-hati wanita, mengutip dari buku yang saya baca

“Kita mungkin bukan perempuan jalang, mungkin tidak berkomplot untuk berbuat jahat atau memperdaya seperti Delila, tetapi banyak di antara kita yang suka memperdayakan orang. Saya kira, sebenarnya kita semua mempunyai sedikit sifat suka memperdaya atau menipu ini.” (Eugenia Price, The Unique World of Women)

I study materials science. I study about materials properties. Apabila saya membandingkan sifat wanita dan pria dengan sebuah material, maka Pria adalah keramik dan Wanita adalah karet. Men are strong but they are brittle and Women are weak but they are tough. Pria-pria itu kuat tapi ketika batas kekuatan mereka dilampaui mereka akan pecah, jatuh, rusak,sama seperti keramik. Sementara wanita, mereka memang lemah tapi meski batas kekuatan mereka terlampaui mereka akan bertahan dalam waktu yang lama, bahkan menjadi semakin kuat dan baru akan menjadi rusak, sama seperti karet. Akui saja para wanita, kita memang punya strong will, dan memang kita sering kali berusaha sekuat tenaga termasuk memperdaya pasangan kita agar bisa mendapatkan keinginan itu.

Ada sebuah buku yang sedang saya baca, di dalamnya ada kisah tentang Debora dan Barak. Seperti yang kita tau Debora adalah hakim wanita yang telah dipilih Allah untuk memimpin bangsa Israel, baik secara rohani maupun sebagai suatu bangsa. Debora adalah seorang nabi perembuan, nabiah, yang telah ditunjuk Allah sendiri untuk mengemban tanggung jawab laki-laki. Beribu-ribu tahun lalu Allah sendiri sudah menyatakan ke-sederajat-an pria dan wanita. Atas perintah Allah, kemudian Debora memerintahkan Barak untuk berperang melawan Sisera. Dan kita tau sendiri bagaimana akhirnya Barak menjadi pahlawan yang mengalahkan Sisera hanya dengan 10.000 prajurit.

Dibalik kemenangan itu semua ada kerja sama yang baik antara dua pribadi pria dan wanita yang membiarkan hidupnya dipakai Allah. Debora menyadari posisinya sebagai hakim yang memimpin bangsa Israel. Ia menyadari betul perannya bagi bangsanya, ia juga menyadari betul kemampuan dan keterbatasannya sebagai seorang wanita yang tidak terlalu pandai dalam berperang. Pada waktu yang telah ditetapkan Allah, Debora memerintahkan Barak, seorang lelaki yang tentunya lebih pandai dalam strategi perang untuk maju melawan Sisera. Dan Barak, sebagai lelaki yang takut akan Tuhan menghormati Debora sebagai pemimpin yang telah dipilih Allah. Bahkan Barak dengan kerendahan hati tidak berusaha membuktikan siapa yang lebih kuat dan pintar di antara dirinya dan Debora. Ia bahkan mengatakan “Jika engkau turut maju aku pun maju, tetapi jika engkau tidak turut maju aku pun tidak maju” Ia mengakui iman Debora kepada Allah dan yakin bahwa debora adalah wakil Allah di tengah bangsanya. Apabila Debora beserata dengannya maka Allah beserta dia juga. Mengutip tulisan dari buku

“Walaupun pendekatan Debora telah membuat Barak menjadi pahlawan bagi Allah, tetapi di antara mereka tidak ada rasa saling membenci ataupun persaingan. Bersama-sama sebagai dua pribadi -seorang perempuan dan seorang laki-laki – mereka melaksanakan perintah Allah. Masing-masing saling membantu dengan sukarela demi kesejahteraan seluruh bangsa.”

“Debora dan Barak berfungsi sebagai satu unit. Mereka saling menolong dan melengkapi.”

(Gien Karssen, Ia dinamai perempuan)

dan kita melihat hasilnya, dari dua pribadi yang menyadari betul posisinya di hadapan Allah, dan mau dipakai Allah tanpa mempedulikan their own superiority and inferiority. Sisera dan kereta-kereta besinya dikalahkan hanya dengan 10.000 orang. Bahkan, melalui Yael, yang juga sadar akan perannya, Sisera mati. Wanita dan pria diciptakan sederajat bukannya sama. Masing-masing have their own superiority and inferiority. Mereka diciptakan sepadan untuk saling melengkapi. Jadi klo pacar/pasangan Anda lebih cerdas dari Anda ya, itu untuk melengkapi Anda *hehehehehehe*

So, what’s with this superiority and inferiority between man and woman? Kenapa harus merasa insecure? Bukankah orde kita sekarang adalah sama-sama dibawah Allah, terlepas apapun gelar kita, posisi kita, dan salary kita?  Bukankah jika Ia mau, Allah akan memenuhi segala kebutuhan kita? dan Bukankah diatas semuanya itu yang terpenting adalah kehendak Allah terlaksana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s